Kecewa. Satu kata yang mungkin kau rasakan untukku. Seorang wanita yang pergi memilih untuk bersama orang yang sangat kau dan orang lain khawatirkan akan kebersamaan kami. Kau dan wanita itu sudah pernah memberikan saran agar tidak melanjutkakan hubungan ini. Tapi aku, aku malah melanjutkan hubungan ku dengannya karena rasa ingin tau yang tidak pantas. Aku penasaran. Aku tak bisa mempercayai perkataan banyak orang jika aku belum pernah menjatuhkan diriku kedalamnya. Ya kini apa yang kalian katakan benar mengenai lelaki itu. Perlukah kumenceritakan kisah ini dari awal? Aku akan menceritakan semuanya dari awal.
Tak banyak yang kuingat tentang lelaki ini, sejak kapan dia mendekatiku. Oh ya mungkin semenjak kau pergi meninggalkanku. Beberapa hari sejak kita mendeklarasikan bahwa hubungan kita sudah berakhir, lelaki ini mulai memberikan perhatiannya kepadaku. Ya tidak sering bahkan terbilang jarang dan hanya sebatas teman yang menghibur ketika kawannya sedang dalam masa sulit. Aku hanya menanggapinya sewajar dan sepantasnya saja. Hingga akhirnya dia tak pernah lagi memberikan perhatiannya kepadaku.
Lama.. hingga beberapa bulan setelah kau pergi dariku, lelaki itu muncul kembali. Kami bertukar pikiran, berbagi cerita hingga dia bercerita bagaimana ia berhubungan dengan banyak wanita. Ia bilang kepadaku bahwa ia memiliki cara untuk mencintai seseorang. Tiga bulan. Ia bilang jika ia berpacaran dalam kurun waktu tiga bulan dengan seorang wanita maka wanita itulah yang akan menerima cintanya. Ya ia tidak langsung memberikan cintanya kepada seseorang ketika ia meminta untuk berpacaran. Melainkan ia memberikan tenggat waktu selama tiga bulan, jika ia dan wanita itu tidak bisa bertahan selama tiga bulan maka ya berakhir begitu saja. Tapi jika hubungan pacaran mereka bisa bertahan hingga tiga bulan, maka ia akan memberikan cintanya dan hubungan mereka akan bertahan lama. Bisa bertahun-tahun bahkan. Aneh? Iya. Inilah yang membuatku penasaran.
Sampai suatu hari ia mendatangi rumah keduaku. Rumah nenekku. Karena masa kuliahku aku harus tinggal sementara di rumah nenek. Ia datang, kami bercerita banyak. Kemudian ia pulang. Aku iseng menghubunginya tengah malam. Kubilang bahwa aku sedang lapar dan tak ada yang bisa kumakan dirumah. Kemudian dengan gagahnya ia kembali kerumahku untuk mengantarkan seporsi makanan. Ya ia hanya mengantarkan makanan lalu pulang lagi. Manis, sangat manis.
Tak hanya itu, suatu hari ketika sudah malam tidak ada kendaraan yang dapat mengantarkan ku dari kampus hingga rumah. Aku iseng menghubungi ia, ia bilang bahwa motornya sedang dipinjam oleh temannya. Harapan akan pulang cepat karena diantar musnah seketika. Kemudian ia bertanya aku pulang naik apa dan dengan siapa. Ku jawab seadanya. Dia khawatir dan langsung menelponku. Iseng ku bilang padanya, maukah ia mengantarkanku sampai rumah dengan berjalan kaki? ia menjawab ya. Terkejut sekali mendengarnya. Ku tunggu ia di depan kampus, ia datang menghampiriku. Sepanjang jalan kami bercanda dan bercerita. Dan merencanakan sesuatu. Menyenangkan sekali pikirku. Jarak kampus dan rumahku terbilang cukup jauh jika dilalui dengan berjalan kaki. Sekitar dua kilometer lebih lah. Ia manis sekali bisa mengantarkan ku hingga ke rumah. Sampai rumah ia langsung kembali lagi ke kampus karena tadi ia sedang ada urusan dengan kawan-kawannya. Dan sengaja izin hanya untuk mengantarkan ku pulang. Manis bukan? Super sekali ia jika menginginkan seorang wanita.
Sebelum aku memutuskan untuk melanjutkan hubungaku dengannya. Kau tau bukan bahwa aku meminta banyak sekali saran dengan banyak orang, kau, teman, sahabat hingga mantan kekasihnya. Dan semua orang memperingatiku. Mereka semua berkata aku harus berhati-hati bahkan ada yang langsung bilang jangan kepadaku. Tidak ada yang mendukungku untuk melanjutkan hubungan dengannya. Kalaupun ada itu juga tetap dengan peringatan keras. Itu membuatku semakin penasaran. Seperti itu kah orang ini? Aku melanjutkan walaupun semua orang memperingatiku.
Tanggal 5 April, satu hari setelah berjalan-jalan di tempat yang sudah lama aku inginkan bersama kau. Aku pergi dengannya. Janjian bertemu di stasiun Bekasi, ia menjemputku dengan motornya. Ya kami berdua pergi ke Purwakarta mengendarai motor. Sepanjang jalan kami bercerita, bercanda dan adahal yang paling ku sukai waktu kami berdua masih berada diatas motor. Saat melintasi kawasan industri yang tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Aku meminta izin untuk berdiri diatas motornya. Dan ia mengizinkanku. Hal yang tak pernah kau izinkan untukku. Berkali-kali aku berdiri diatas motornya. Saat ada tanjakan ataupun turunan. Itu menyenangkan sekali. See? bagaimana aku tidak bisa menolak ajakannya untuk melanjutkan hubungan ini?
Tujuan kami ke Purwakarta tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk menghadiri acara pernikahan kakak senior kami di organisasi itu. Kau sendiri tau bukan? Sorenya setelah kami berdua selesai mengahadiri acara tersebut kami diundang untuk mampir di rumah senior kita di Cikampek untuk sejenak melepaskan letih karena sudah berkendara jauh. Tak lupa juga kami dibawakan rambutan manis untuk dibawa ke Jakarta.
Karena ini akhir pekan dan seharusnya aku pulang, maka kami pun mampir sebentar ke rumah ku yang asli. Karawang, tak ada salhnya bukan, toh sebelum kami kembali ke Jakarta akan melintas juga di kota tempat ibu dan ayah ku tinggal. Hanya sebentar di rumah, aku perkenalkan ia kepada kedua orangtuaku dengan sewajarnya. Tiba-tiba ia menanyakan alamat rumah yang ternyata adalah alamat rumah saudaranya. Ternyata rumahnya tak jauh dari rumah ku. Setelah berpamitan kepada kedua orang tuaku. Kami berkunjung ke rumah saudaranya. Berbicang-bincang sejenak, dan kami dibawakan makanan untuk bekal kami dijalan pulang. Magrib tiba. Kami berhenti di SPBU untuk menunaikan kewajiban dan makan bekal yang diberikan oleh saudaranya. Seperti musafir, kami makan dengan lahap di pinggiran sambil lesehan dan tak peduli dengan orang yang berkeliaran disekitar kami.
Kuingat ia kembali menanyakan mengenai status hubungan kami. Hingga ia terpancing emosinya dan ia mendiamkan aku. Pada saat macetnya kota Bekasi kami rasakan, ia kembali menanyakan hal itu. Dan saat itu ia memberikan dua pilihan kepadaku. Menerimanya atau dia akan meninggalkan ku dan tak akan mendakatiku lagi. Ya kau tau bukan jawabanku apa. Aku menerimanya. Setelah seharian bersamanya, aku merasa ini menyenangkan. Selain itu, dia orang yang pernah ke rumahku. Hal yang sulit kau lakukan untukku. Maaf aku membandingkan kau dengannya.
Ia mengantarkanku pulang hingga sampai ke rumah. Rumah ini ada di Jakarta dan rumahnya ada di Bekasi, ya ia bolak balik hanya untuk mengantarkan aku pulang dengan selamat. Perjalanan kami hari itu dengan mengendarai motor. Lelah, sangat lelah.
Dan baru ku ingat bahwa aku jahat sekali. Ketika aku menemukan sebuah tulisan di blog pribadimu. Tanggal tulisanmu tentangku, adalah tepat saat aku memutuskan untuk melupakanmu dan pergi bersamanya. Membancanya membuatku menangis dan menyesal. Tapi hubungan ini harus terus berlanjut rasa penasaran akannya masih kurasakan saat itu. Hubungan kami baru berjalan beberapa minggu saat ia mengajakku pergi ke tempat yang sama sekali tidak terpikirkan olehku.
Tujuan utamanya adalah Cibodas, karena kami berangkat dari siang dan kami ke puncak pass Bogor dulu. Pada saat sampai puncak pass sudah memasuki waktu dzuhur, kami mampir ke sebuah masjid yang ada di puncak Bogor, ya masjid Atta'awun. Ia bilang hanya di tempat inilah ia dapat menunaikan kewajibannya dengan khusyuk. Senang mendengar pengakuannya.
Ternyata Cibodas itu cukup jauh apalagi di tempuh menggunakan motor, panas dingin kami rasakan hari itu. Karena menurut ia Cibodas tidak terlalu menarik maka ia mengajakku pergi ke tempat yang benar-benar tidak aku duga sebelumnya. Curug atau air terjun Cibeureum. Lelah tapi pada saat kau sampai lelah itu sirna. Benar-benar sirna. Hilang entah kemana lelah yang kurasa pada saat perjalanan.
Kau tau ada hal yang tak akan pernah aku lupakan dengan ia. Di samping air terjun itu ada surau yang memang disediakan untuk beribadah, Ya indah sekali beribadah di alam terbuka seperti itu. Kau tau orang seperti ia bisa mengimami aku beribadah. Percaya kah kau akan hal itu? Tapi sungguh itu terjadi. Pertama kalinya ia mengimami ku sholat.
Pada saat itulah aku sempat berpikir bahwa ia sudah berubah dan tidak seperti yang mereka katakan. Hingga hubungan kami mencapai satu bulan, manis masih kurasakan. Memasuki bulan kedua perilakunya mulai berubah. Ia kembali seperti yang pernah mereka katakan kepadaku. Sudah hampir dua bulan hubunganku dengannya berjalan. Dan aku tetap bertahan bersamanya, mengingat jika aku bisa mempertahankan hubungan ini selama tiga bulan maka aku menang. Tapi jika aku tidak dapat mempertahankan hubungan ini selama tiga bulan maka aku kalah. Entahlah aku menang dan kalah melawan siapa. Melawan ia, atau melawan ego diriku sendiri.
Aku tau bahwa kau, mantan kekasihnya yang juga temanku dan temanmu sering membahas mengenai hubungan antara aku dengannya. Aku mencoba untuk tetap tidak peduli. Sampai suatu hari kau memaksa temanku yang juga mantan kekasihnya untuk membongkar semua perbuatan ia kepadaku yang sebenarnya.
Tepat sekali apa yang ia lakukan kepadaku dengan waktu yang berjalan sebulan belakangan ini. Bahkan hingga saat ini, saat aku menulis tulisan ini. Satu bulan yang lalu ia mulai mengabaikan ku dan satu bulan itulah kurun waktu ia menggencarkan aksinya untuk mendekati temanmu, temanku yang juga mantan kekasihnya. Sangat cocok sekali.
Bahkan hingga tulisan ini aku posting, ia tetep melakukan aksi egoisnya. Kisah percintaannya memang aneh, semua yang dikatakan orang tentangnya benar. Bahkan yang dikatakannya waktu ia mendekatiku. Ia dan orang lain pernah berkata, ia memang manis pada bulan pertama, tetapi memasuki bulan kedua hubungan ini akan terasa sangat sulit untuk dijalani. Bagai dua orang yang berbeda sikapnya berubah drastis.
Bulan pertama ia selalu khawatir dengan keadaanku, menelpon dan menghubungi ku setiap saat. Tapi saat ini, ya ia berubah. Khawatir dengan ku? Ingat denganku saja sepertinya tidak. Saat aku ingin bercerita dengannya ia sangat sulit untuk dihubungi. Bahkan hanya untuk membalas sms ku saja ia tak ingin sepertinya.
Kadang rindu merasuki diriku. Tapi saat ingat dengan tingkahnya belakangan ini aku merasa malas untuk memikirkannya. Kalau saja aku tidak memiliki ego untuk tetap bersamanya selama tiga bulan, aku sudah tidak akan pernah menghubunginya lagi dan tidak akan peduli padanya.
Kau tau perasaanku saat ini? Sakit hati? Anehnya aku tidak merasakan
apa-apa selain senang. Aku puas rasa penasaranku sudah terjawab. Aku
tidak mengabaikan peringatan kau dan mereka mengenainya. Aku memang
melakukan kesalahan dengannya tapi itu resiko yang aku tau dari awal.
Dan aku tidak menyesal. Aku tau resikonya dan aku harus menerimanya
bukan? Bahkan aku harus menerimanya jika kau sudah tidak menginginkan
aku kembali karena kau kecewa denganku.
Maafkanlah aku yang sudah terkalahkan oleh ego dan..
waktu.